Selasa, 06 September 2011

Jalan Situlen-Gelombang Rusak

Minggu, 21 Agustus 2011 09:44 WIB

KUTACANE - Proyek pelebaran jalan Muara Situlen, Aceh Tenggara menuju Gelombang, Subulussalam yang belum rampung dikerjakan mulai kembali rusak. Pihak rekanan langsung menyatakan akan segera memperbaiki kerusakan itu di antara ruas jalan sepanjang tiga km itu yang sedang dikerjakan dengan sumber dari Dana Alokasi Khusus APBA 2011 sebesar Rp 10 miliar.

Anggota Komisi C DPRK Agara, M Yunir, Sabtu (20/8) menyatakan telah memeriksa langsung pelaksanaan di lapangan dan menilai tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Dia mencontohkan, tidak adanya test pith (kepadatan lapisan tanah dasar) di atas badan jalan itu yang tanahnya berlumpur yang seharusnya ada geo texstile (kedap air tanah).

Dalam pelebaran jalan, rekanan hanya menggali 30 cm pada sisi kiri dan kanan jalan, kemudian ditimbun dengan sirtu. Seharusnya, katanya, sirtu dilakukan secara berlapis antara 20-30 cm, kemudian pemadatan dengan compact. Yunir meminta pihak perencana dan pengawasan turun ke lokasi, sebelum rampung dikerjakan.

Dia juga heran dengan tidak adanya rambu-rambu proyek yang seharusnya dipasang di setiap titik pekerjaan untuk menghindari kecelakaan terhadap kendaraan yang lalu-lalang pada malam hari. “Saya akan terus memantau pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh rekanan agar standar yang diharapkan tercapai,” ujarnya.

Sementara itu, secara terpisah, pihak rekanan PT Era Wirasta melalui humasnya, Rahmad Hidayat ST, Sabtu (20/8) mengatakan, akan merehab jalan-jalan yang kembali rusak di kawasan itu. Misalnya jalan di Kampung Gayo yang mencapai tiga kilometer sudah mulai rusak sejak beberapa tahun lalu.

Rahmad yang jug anggota DPRK Agara dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menegaskan dalam kontrak kerja, penggalian dilakukan sedalam 30 cm dan telah melakukan test pith, sehingga sesuai prosedur yang telah ditetapkan sebelumnya. Dia menyatakan proyek pelebaran jalan itu akan rampung dikerjakan pada akhir tahun ini.(as)

Sumber Serambinews.com

Kamis, 04 Agustus 2011

Rp18,4 miliar untuk Aceh Tenggara

TUESDAY, 28 JUNE 2011 07:32

KUTACANE - Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) pada tahun 2011 memperoleh Dana Insentif Daerah (DID) sebesar Rp 18,4 miliar dari Kementerian Keuangan RI. Dana tersebut diberikan karena Agara dinilai berprestasi baik dalam pengelolaan keuangan daerah, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat, di atas rata-rata nasional.

Bupati Aceh Tenggara, Hasanuddin, mengatakan, uang sebanyak itu diberikan Menteri Keuangan RI karena Kabupaten Aceh Tenggara berprestasi baik dalam pengelolaan keuangan daerah, pertumbuhan ekonomi, dan indeksi pembangunan manusiannya di atas rata-rata standar nasional.

“Menurut Menteri Keuangan, Aceh Tenggara dinilai wajar mendapat penghargaan dengan diberikannya dana insentif daerah atau DID sebesar Rp 18,4 miliar,” katanya. Terkait pengunaannya, Bupati Hasanuddin menyatakan, akan dialokasikan untuk bidang pendidikan. “Seperti pembangunan gedung-gedung sekolah, pengadaan sarana dan prasarana, peningkatan mutu pendidikan, peningkatan kualitas tenaga pendidik, dan hal-hal lainnya untuk kemajuan dunia pendidikan di Bumi Sepakat Segenap ini,” ujar Bupati Agara, Hasanuddin B.

sumber waspada.co.id

Jumat, 29 Juli 2011

Wabah malaria di Leuser turun

MONDAY, 30 MAY 2011 06:47

KUTACANE - Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Aceh Tenggara, Ramulia, mengungkapkan serangan penyakit malaria di Kecamatan Leuser tahun ini cenderung menurun. Padahal sebelumnya, malaria merupakan merupakan penyakit yang dominan (sering) menyerang masyarakat Leuser, dibandingkan kecamatan-kecamatan lainnya.

Tingginya serangan malaria tersebut menurut Ramulia, karena Kecamatan Leuser berada di lingkungan hutan belantara dan sangat terisolir, sehingga menyebabkan nyamuk selaku pembawa penyakit malaria cepat berkembang.

“Kalau di 15 kecamatan lain, penyakit yang dominan adalah Inpeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA),” katanya.

Petugas Dinkes Agara dia katakan, selalu turun ke Kecamatan Leuser setiap tiga bulan sekali untuk memeriksa sampel darah masyarakat setempat. Dinkes juga membagikan kelambu dan obat-obatan, dan ini memang sudah lama diprogramkan dalam upaya menekan serangan malaria.

Kepala Puskesmas Leuser, Jemali, menyebutkan sampai pertengahan tahun 2011 ini, jumlah penduduk terserang malaria sebanyak 3 orang. Menurun bila dibandingkan tahun 2010 kemarin yang mencapai 20 orang.


Sumber Waspada.co.id

Selasa, 26 Juli 2011

Agara Diterjang Banjir Jembatan dan Tiga Rumah Ambruk

Laporan: asnawi lawi, Serambinews.com - Aceh Tenggara
Mon, May 23rd 2011, 12:12


BANJIR - Banjir bandang menerjang Aceh Tenggara, menyebabkan jalan lintas Gayo Lues--Agara putus akibat tertimbun longsor bebatuan, pepohonan. Kenderaan dari ke dua Kabupaten itu antrian panjang selama 12 jam, akibat opprit jalan di Desa Penangalan putus sepanjang 20 meter. Beberapa kawasan yang parah antara lain di Desa Penangalan, Seldok, juga di Kecamatan Ketambe setelah hujan mengguyur kabupaten itu sejak Minggu (22/5) malam. Foto direkam Senin (23/5). Serambinews.com/asnawi lawi


KUTACANE - Sejum;ah desa di Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, diterjang banjir bandang, menyusul hujan yang mengguyur daerah itu sejak Minggu (22/5) malam.
Kawasan yang parah antara lain Desa Penangalan, dan Seldok. Sejumlah jalur jalan juga tertimbun longsor bebatuan, pepohonan. Akibatnya kawasan itu lumpuh karena tidak bisa dilalui kendaraan bermotor dari Aceh Tenggara (Agara) menuju Gayo Lues (Galus) dan sebaliknya.

Opprit jalan di Desa Penangalan putus total sepanjang 20 meter lebih. Selain itu, tiga unit rumah warga dibawa banjir dan satu unit yayasan Darul Ayam, roboh akibat dihantam arus sungai tersebut.

Bupati Agara, H Hasanuddin B, Kapolres, AkBP Arsyad, Dandim, Letkol (Inf), R Andi Roediprijatna W, Ketua DPRK, M Salim Fakhri, anggota Komisi C DPRK yang turun ke lokasi musibah, mengintruksikan untuk ditangani dengan mengerahkan mengerahkan dua alat berat jenis scopel untuk membersihkan badan jalan.

Sulaiman, seorang warga menuturkan kepada Serambinews.com, hujan deras sejak Minggu malam sekitar pukul 21.00 wib. Banjir menyeret batang kayu gelondongan sehingga menumpuk di jembatan, dan membuat jalan sepanjang 20 meter ambruk.

Kayu gelondonng yang diseret banjir, kata Bupati Agara, Hasanuddin B, merupakan pembalakan liar yang sudah lama terjadi. "Untuk saat ini kita tangani secara darurat dengan memperbaiki opprit jembatan yang rusak," katanya.

Bupati memperkirakan hingga siang hari ini bisa selesai untuk sekedar dilalui kendaraan roda empat. Ke depan akan dibangun bronjong permanen dan memperbaiki opprit jembatan yang rusak. Sedangkan rumah warga yang rusak akan dilaporkan kepemerintah Aceh, terutama menangani masa panik.(*)

sumber Serambinews.com

Kamis, 14 Juli 2011

DPRK Agara Desak Bupati Tenderkan Proyek APBK 2011

Mon, May 16th 2011, 08:35

KUTACANE - DPRK Agara, mendesak Bupati Agara untuk segera menenderkan proyek APBK tahun 2011 untuk mencegah keterlambatan pengerjaan proyek tersebut.

Anggota DPRK, Tgk Appas JS, kepada Serambi, Sabtu (14/5) mengatakan, pada tanggal 31 Desember 2010 lalu, Dewan Agara telah mengesahkan APBK 2011 sebesar Rp 485 miliar. Namun, proyek APBK tahun 2011 itu belum juga ditenderkan.

Keterlamantan pelaksanaan tender dikhawatirkan pengerjaan proyek akan tergesa-gesa yang berdapak mutu proyek menjadi rendah, atau malah proyek tidak selesai dikerjakan. Dia mencontohkan, kalau proyek itu mulai dikerjakan pada bulan Juli atau Agustus 2011 mendatang, ini waktunya sangat singkat.

Dengan ditenderkannya proyek APBK 2011 tersebut, menurut Tgk Appan JS, tentunya akan membuka lapangan kerja bagi para penganguran di Agara. Untuk itu, DPRK Agara, mendesak Bupati untuk segera tenderkan proyek APBK 2011, demi terlaksananya pembangunan infrastruktur dan pembangunan lainnya yang berkualitas sesuai harapan masyarakat.(as)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 13 Juli 2011

Pembukaan Jalan Muara Situlen-Gelombang Diminta Lanjutkan

Fri, May 13th 2011, 08:42

KUTACANE - Anggota DPRK Aceh Tenggara, Erdarina Pelis, meminta Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat agar segera melanjutkan pembukaan jalan tembus Muara Situlen (Aceh Tenggara) menuju Gelombang (Kota Subulussalam). Alasannya, jalan tersebut sangat dibutuhkan masyarakat terutama untuk memudahkan masyarakat mengangkut hasil pertaniannya.

“Daerah itu merupakan areal perkebunan dan pertanian yang sangat diandalkan masyarakat. Tapi, karena minimnya sarana jalan menyebabkan hasil pertanian tak bisa dijual dengan harga layak,” kata anggota dewan dari Partai Gerindra itu, kepada Serambi, Kamis (12/5).

Ia menambahkan, produksi sawit dari Kecamatan Leuser dan sejumlah kecamatan lain di Agara terus meningkat. Namun akibat buruknya sarana jalan dari batas Agara menuju Sumut, hasil perkebunan dari Agara ketika dibawa ke luar daerah semakin menyusut dan harganya menjadi murah.

“Seandainya, jalan tembus Muara Situlen-Gelombang terbuka, maka hasil sawit Agara akan mahal, karena tidak perlu lagi dibawa melintasi jalan Kabupaten Tanah Karo yang kondisinya buruk serta menelan waktu yang lama,” tambahnya.(as)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 27 Juni 2011

Lahan Diserobot, Warga Datangi Dewan

Wed, May 4th 2011, 14:35

KUTACANE - Puluhan warga Desa Sengelit, Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara, Rabu (4/5/2011), mendatangi kantor DPRK setempat. Kedatangan mereka terkait penyerobotan lahan yang diduga dilakukan oknum-oknum tertentu. Kehadiran massa itu diterima Ketua DPRK Aceh Tenggara, M Salim Fakhri, Wakil Ketua Syahbuddin BP, anggota DPRK Irwandi Desky dan Abdul Malik.
Perwakilan warga, Seliansyah Putra, kepada Serambinews.com, mengatakan, kedatangan mereka ke DPRK, untuk meminta hak atas garapan lahan yang diduga dirampas oknum-oknum dari Keluarga Maha.
Dikatakan, masyarakat 63 Kepala Keluarga (KK) membuka lahan di Bumbun Alas, Kecamatan Leuser, sejak tahun 1996 dari 7 desa di Agara. Namun, pada tahun 2004, Kepala Desa mengeluarkan surat tanah tersebut dengan pemilik keluarga Maha dengan nomor 08/BB4/58/2005 dan mana bisa Kepala Desa Keluarkan surat tersebut.
Setiap KK, sebut Seliansyah, daerah itu memiliki luas areal bervariasi antara 4-8 hektare dan sebahagian sudah ditanami komoditi cokelat, sawit dan komoditi lainnya.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Jalan Longsor di Lintasan Galus-Agara Harus Segera Diperbaiki

Wed, May 4th 2011, 08:46

KUTACANE - Anggota DPRA, Irmawan SSos MM asal daerah pemilihan (Dapil) VII yang juga putra Gayo Lues, mengharapkan agar Pemerintah Aceh segera memperbaiki jalan di lintasan Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) dengan Kabupaten Gayo Lues (Galus) persisnya di Desa Simpur Jaya, Kecamatan Badar, Agara.

“Jalan itu harus secepatnya diperbaiki Pemerintah Aceh, karena setiap saat dilintasi kenderaan yang membawa hasil bumi ke Medan dan kebutuhan pokok dari Medan ke dua kabupaten dimaksud,” ujar Irmawan kepada Serambi via handphone selular, Selasa (3/5) usai menunjau jalan tersebut, Senin (2/5).

Ia mengatakan, jalan negara tersebut, ketika dicek ke lapangan, sudah longsor ke sungai Alas mencapai sepanjang 138 meter dan lebar sekitar 2,5 meter. Akibat longsor tersebut, badan jalan yang sebelumnya lebarnya 10 meter dan sempat terjadi antrian panjang gara-gara jalan dimaksud amblas ke sungai Alas.

Untuk itu, lanjut Irmawan, pihaknya meminta supaya Pemerintah Aceh melalui dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh dapat sesegera mungkin menanganinya secara darurat, jangan sampai berlarut-larut dan dikhawatirkan jalan tersebut habis mengikis sungai Alas kalau tidak secepatnya dibangun oleh Pemerintah Aceh.

“Jangan gara-gara jalan rusak itu hasil bumi sulit diangkut, dan ini akan sangat merugikan petani di daerah itu. Dan, juga kalau bahan pokok sulit dipasok dari Medan di daerah itu karena jalan masih rusak, ini akan menyebabkan harga kebutuhan pokok menjadi mahal dan ini tentunya akan merugikan rakyat khususnya di kawasan pedalaman Gayo Lues dan Agara,” katanya.(as)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 21 Juni 2011

Staf BPKEL dan TNGL Nyaris Adu Jotos

Diduga Saling Klaim Wilayah Riset
Wed, Apr 20th 2011, 08:36


Seorang polisi Polres Agara menenteng senjata api laras panjang saat mengamankan perselisihan antara petugas Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) dengan petugas TNGL di lokasi studi penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Agara, Selasa (19/4). PROHABA/ASNAWI

KUTACANE - Pihak Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), Senin (19/4) sekitar pukul 14.30 WIB, terlibat adu mulut yang nyaris berujung saling tukar bogem mentah dengan staf Taman Nasional Gununung Leuser (TNGL) di lokasi stasiun Penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Agara.

Disebut-sebut, pertengkaran itu dipicu oleh saling klaim kedua pihak atas lokasi riset, di Ketambe sebagai wilayah tugas mereka masing-masing. Pertengkaran itu sempat membuat Kapolres Agara, AKBP Drs Arsyad KH, Wakapolres Kompol Bambang Eko Subandono SIK MM dan petinggi Polres Agara lainnya turun tangan menengahi situasi.

Staf BPKEL Agara, Cikgam, Senin (19/4) mengaku, mereka diusir pihak TNGL di lokasi riset secara paksa dengan menggunakan senjata tajam. Mereka sudah 3 tahun lebih mengelola lokasi riset tersebut dan kenapa sekarang diributkan.

Menurutnya, berdasarkan peraturan Gubernur Aceh nomor 52 tahun 2006 tentang pembentukan BPKEL, undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, Intruksi Gubernur nomor 5/INSTR/2007, tentang moratorium logging di Aceh.

Mereka meminta kepada Pemerintah Aceh untuk menyelesaikan persoalan itu dan memperjelas status lokasi riset tersebut apakah itu hak tugas BPKEL atan TNGL, seperti diakui Cikgam.

Sementara itu, Kepala Resort Lawe Gurah TNGL, Sabaruddin, secara terpisah mengatakan, itu wilayah tugas mereka berdasarkan undang-undang tahun 2009 tentang pokok kehutanan, undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, Konservasi ditangani pusat bukan diserahkan kepada daerah.

Ditanyai tentang pengusiran pihak BPKEL di lokasi riset dengan menggunakan senjata tajam, Sabaruddin, membantah mengancam menggunakan senjata tajam. Namun dia mengakui mengusir pihak BPKEL secara paksa di lokasi riset, karena tidak ada surat tugas mereka.

Sementara itu, Kapolres Agara, AKBP, Arsyad didampingi Waka, Bambang Eko Subandono, mengatakan, saat ini pihaknya menelusuri insiden itu secara lebih jernih. Termasuk berkoordinasi dengan jajaran pimpinan lebih tinggi, agar kedua pihak tidak ada yang merasa dirugikan.(as)

Sumber : Serambinews.com

Cokelat Rp 22.000 Per Kilogram

* Harga Pinang Naik
Mon, Apr 18th 2011, 10:27

KUTACANE - Harga cokelat (kakao) di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) dilaporkan naik menjadi Rp 22.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 20.000. Sementara kemiri justeru mengalami penurunan dari Rp 24.000 menjadi Rp 22.000 per kilogram.

Pengumpul hasil bumi di Agara, Hendrik, kepada Serambi, Minggu (17/4), mengatakan, kenaikan harga komoditas cokelat ini terjadi sepekan lalu, seiring dengan peningkatan permintaan di pasar Medan, Sumatera Utara.

“Harga barang di pasaran tak menentu, karena naik atau turunnya tergantung harga di pasaran Medan. Karena mayoritas hasil bumi dari Agara dipasarkan ke Medan,” ujar Hendrik.

Sementara itu di Kabupaten Pidie Jaya, harga pinang dilaporkan naik sejak pekan lalu dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.800, atau terjadi kenaikan Rp 1.300 setiap kilogramnya.

Hal ini disambut antusias oleh petani, salah satunya Khatijah, petani di Gampung Paru, Kecamatan Bandar Baru. “Setiap hari kita mampu menghasilkan pinang yang telah dibelah sebanyak 100 hingga 150 kilogram,” sebutnya.

Pinang itu selanjutnya dijual kepada agen penampung yang kebanyak langsung mendatangi petani di desa-desa. Rata-rata setiap penampung mampu mengumpulkan 3 sampai 4 ton pinang belah, untuk selanjutnya dikirim ke Medan, Sumatera Utara.(as/c43)

sumber : Serambinews.com

Senin, 13 Juni 2011

Jalan Gaya Jaya-Salim Pipit Rusak

Sun, Apr 17th 2011, 08:37
* Hasil Bumi sulit Diangkut

KUTACANE - Sekitar sepanjang delapan kilometer jalan Gaya Jaya, di Kecamatan Lawe Sigala yang menghubungkan Desa Salim Pipit, Kecamatan Babul Rahmah, Aceh Tenggara, rusak. Akibatnya, kenderaan yang melintasi didaerah itu kesulitan mengangkut hasil bumi seperti sawit, jagung, cokelat dan komoditas lainnya.

“Sudah bertahun-tahun jalan tersebut rusak, namun sampai sekarang belum ada perbaikan. uUjar M Simamora, tokoh masyarakat Desa Gaya Jaya, kepada Serambi, Sabtu (16/4).

Kata Dia, badan jalan tersebut kondisinya berlubang-lubang dan kupak-kapik seperti kubangan kerbau sehingga sulit dilintasi kenderaan roda empat, tiga dan roda dua. Jalan aspal tersebut merupakan sarat vital masyarakat untuk mengangkut hasil buminya ke Pasar. Sebab, setiap hari petani mengangkut hasil buminya dengan mobil truk dan beca mesin.

Hal lain diutarakan Tarmizi, warga Desa Salim Pipit. Kata Dia, jalan di desanya berlubang-lubang seperti kubangan kerbau. Namun, sampai sekarang belum diperbaiki, sehingga ratusan ton hasil bumi setiap hari di daerah itu sulit diangkut. Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah agar membangun jalan-jalan pedesaan tersebut, agar masyarakat petani mudah mengangkut hasil buminya untuk dipasarkan ke kota kecamatan.(as)
Sumber : Serambinews.com

Rabu, 08 Juni 2011

Di Agara, Getah 17.000/Kg

Mon, Apr 11th 2011, 09:10

KUTACANE - Harga getah di Kabupaten Aceh Tenggara sejak tiga hari terakhir mengalami kenaikan. Getah lempengan dari sebelumnya Rp 12.000 naik menjadi Rp 17.000 per kilogram dan getah ball dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Pengumpul getah CV Alas Metuah Kutacane, Bahrum MS, kepada Serambi, Minggu (10/4), mengatakan, kenaikan harga itu dipicu karena kebutuhan di pasaran internasional untuk mempersiapkan produksi seperti ban mobil, sepeda motor dan bahan baku produk tekstil lainnya terus meningkat.

Bahrum mengungkapkan, setiap minggu dia bisa memasarkan 5 ton getah olahan yang sudah menjadi sal (selendang) ke Kabupaten Asahan. Ke depan dia merencanakan akan menambah jadwal pengangkutan menjadi 3 kali per minggu, karena stok getah yang mulai stabil.(as)

Sumber : Serambinews.com

Jalan Nasional Blangkejeren-Kotacane Rusak Parah

Thu, Apr 7th 2011, 09:23

BLANGKEJEREN - Puluhan meter ruas jalan nasional antara Blangkejeren (Kabupaten Gayo Lues) dengan Kotacane (Aceh Tenggara), dalam beberapa bulan terakhir ini rusak parah.

Pantauan Serambi, Rabu (6/4), meskipun sampai saat ini sejumlah titik ruas jalan itu sedang dilakukan penimbunan oleh instansi terkait, namun hal itu masih dikeluhkan oleh para pengguna jalan. Pasalnya penimbunan yang dilakukan itu, ibarat jalan kuda, naik turun penuh dengan kerikil. Bahkan di saat musim hujan kondisi ruas jalan itu sangat licin dan sulit dilintasi, karena masih saja digenangi air pada beberapa titik di ruas jalan nasional tersebut.

Imron (30) seorang pengguna jalan warga Kotacane, kepada Serambi, Rabu (6/4) mengatakan, kondisi ruas jalan nasional Blangkejeren-Kotacane dalam beberapa bulan terakhir ini mulai hancur, bahkan beberapa titik sangat rawan terjadinya longsor.

Tak hanya itu, kata Imron, sejumlah ruas jalan yang baru diperbaiki dan diaspal pada akhir tahun 2010 lalu, kini mulai hancur dan amblas di beberapa titik. Anehnya, sampai ini, kondisi yang mulai hancur dan amblas itu belum ada penanganan sama sekali. Padahal jalan itu baru saja tuntas dikerjakan.

Dia berharap, agar ruas jalan yang sangat rawan terjadi kecelakan lalulintas dan beberapa titik kawasan yang rawan longsor itu cepat ditangani oleh pihak terkait, sebelum menelan korban jiwa yang lebih banyak lagi.

Hal yang sama diutarakan, Herman warga Blangkejeren. Ia menyebutkan, ratusan meter ruas jalan rusak parah di kawasan Desa Kunke, Jeret Onom, Air Jernih, Serkil dan beberapa titik lainnya di Kecamatan Putri Betung tersebut hendaknya segera ditangani oleh instansi terkait.

Begitu juga halnya beberapa titik kawasan yang sangat rawan terjadi longsor di saat musin hujan, perlu dilakukan penanganan secepatnya. Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir ini kerusakan itu semakin parah dan mulai hancur, sehingga sukar dilalui kendaraan. “Keadaan jalan nasional Blangkejeren-Kotacane, Provinsi Aceh itu saat ini hampir sama dengan keberadaan jalan Kotacane-Medan di kawasan Tanah Karo Sumatera Utara sana,” kata Herman.(c40)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 04 Mei 2011

Aceh Ditargetkan jadi Sentra Penghasil Cokelat

Thu, Mar 24th 2011, 09:12

KUTACANE - Aceh pada tahun 2020 diharapkan bisa menjadi sentra penghasil cokelat (kakao) terbesar di Sumatera. Untuk itu, Forum Kakao Aceh (FKA) berharap Pemerintah Aceh bisa memprogramkan Budidaya Kakao Aceh (BKA).

“Aceh akan menjadi penghasil kakao terbesar di Sumatera tahun 2020 mendatang. Menjadi potensi baru untuk rakyat Aceh, terluas dan terbaik di Sumatera,” kata Ketua FKA, Hasanuddin Darjo, kepada Serambi, Rabu (23/3).

Di samping itu, Hasanuddin yang juga Sekda Aceh Tenggara ini berharap, Kabupaten Aceh Tenggara harus bisa menjadi pusat studi kakao Aceh. Selama ini sambungnya, produksi cokelat Aceh berkisar antara 400 sampai 460 kilogram per hektare. Ke depan diharapkan produksi bisa ditingkatkan lagi menjadi 1,5 ton per hektarenya, dan ini baru bisa tercapai dengan diterapkannya sistem pemeliharaan, pemangkasan, pemupukan dan penanganan pascapanen.

FKA dikatakan telah bekerja sama dengan PT Armajaro Indonesia dan Swisscontact dalam hal pemasaran ekspor. Dari bulan Mei hingga Juni ini ditargetkan ada sebanyak 600 sampai 1.000 ton kakao yang diekspor via Pelabuhan Krueng Geukueh. “Kita akan meminta Pemerintah Pusat untuk memberlukan moratorium atau pengecualian menyangkut bea ekspor kakao,” tambahnya.(as)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 03 Mei 2011

Lima Desa Dikepung Banjir

Mon, Mar 21st 2011, 18:37


SEORANG warga dengan menggunakan sepeda motor coba melewati badan jalan yang digenangai banjir, Senin (21/3/2011) sore.SERAMBINEWS.COM/ASNAWI

KUTACANE - Hujan deras yang menguyur Kabupaten Aceh Tenggara, menyebabkan lima desa di Kecamatan Lawe Sumur, yaitu Desa Kuta Lesung, Lawe Ijo Induk, Lawe Ijo Ampera, dan Lawe Ijo Metuah dan sekitarnya, Senin (21/3/2011) sekitar pukul 16.00 WIB, dikepung banjir.
Ketinggian air rata-rata mencapai satu meter lebih. Akibat genangan banjit tersebut puluhan hektare tanaman jagung, kolam ikan, serta puluhan rumah penduduk terendam. Bencana banjir itu langsung ditinjau Kapolres Agara, AKBP Arsyad dan pihak terkait lainnya.
"Setiap musim hujan saja daerah kami banjir akibat sungai Lawe Kinga meluap."Ujar Rajidin Seorang warga Lawe Ijo kepada Serambinews.com.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Puluhan Kilometer Jalan Simpang Tiga-Leuser Rusak

Mon, Mar 21st 2011, 08:42

KUTACANE - Puluhan kilometer badan jalan dari Simpang Tiga Lawe Desky, Kecamatan Babul Makmur menuju Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara, rusak parah. Kondisi jalan berlubang-lubang seperti kubangan kerbau. Masyarakat setempat mengharapkan agar pemerintah segera memperbaiki jalan itu untuk memudahkan warga mengangkut hasil pertaniannya untuk dijual.

Ramli, warga Leuser kepada Serambi, Minggu (20/3) mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir jalan di daerah itu rusak puluhan kilometer. Namun, sampai sekarang pemerintah belum melakukan upaya perbaikan. “Padahal jalan itu merupakan prasarana vital bagi masyarakat untuk mengangkut hasil pertanian seperti cokelat, jagung, sawit, dan komoditas lainnya,” kata Ramli

Ditambahkan, setiap musim penghujan jalan di daerah itu sulit dilintasi kenderaan roda empat maupun sepmor. Untuk itu, atas nama masyarakat ia meminta kepada pemerintah daerah agar secepatnya membangun jalan dikawasan terisolir dimaksud.(as)

Sumber : Serambinews.com

Jumat, 08 April 2011

Warga Leuser belum Nikmati Jaringan Telepon Selular

Mon, Feb 28th 2011, 08:50

KUTACANE - Masyarakat di kawasan pedalam Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara, hingga kini belum menikmati jaringan telepon selular. Karena itu warga mengharapkan agar pemerintah memfasilitasi agar ada pihak swasta yang membangun jaringan telepon selular di daerah itu.

“Di kantor camat saja susah untuk berkomunikasi dengan telepon selular karena signalnya sangat lemah, apalagi di daerah pedalaman sungguh belum terjangkau jaringan Hp sama sekali,”ujar Ramli, tokoh masyarakat Desa Alga Musara, Kecamatan Leuser, kepada Serambi, Minggu (27/2).

Menurutnya, selama ini masyarakat merasakan sangat sulit untuk berkomunikasi ke pihak kecamatan dan kabupaten, apalagi tingkat Provinsi Aceh. Terkadang mereka harus datang ke kantor camat untuk urusan tak begitu penting. Menurutnya, dengan dibangunnya jaringan telepon selular tentunya akan memperlancar segala urusan dan perekonomian masyarakat juga lancar.(as)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 07 April 2011

Ratusan Keuchik Ikuti Sosialisasi Musrenbang

Tue, Feb 22nd 2011, 12:38

KUTACANE - Ratusan Keuchick (Kades) dan mukim di Aceh Tenggara, ikut sosialisasi Musrembang ( musyawarah rencana pembangunan), Selasa (22/2). Tujuannya, agar perencanaan pembangunan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dalam pertemuan yang berlangsung di aula PTGL Kutacane itu, Kepala Bappeda Agara, Jarwansyah, menjelaskan sosialisasi Musrenbang intinya agara masyarakat terlibat dalam perencanaan pembangunan, sekaligus mengontrol proses pembangunan itu sendiri. "Desa sebagai ujung tombak dan sasaran akhir, maka pembangunan harus dimulai dari tingkat desa," papar ketua Bappeda seraya menambahkan mekanisme saat ini Bappeda dengan PNPM mandiri pedesaan dan PNPM mandiri perkotaan berkolaborasi untuk pelaksanaan sosialisasi Musrenbang Desa.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Agara Peroleh 1.000 Sertifikat Prona

Tue, Feb 22nd 2011, 09:10

KUTACANE - Tahun ini, Aceh Tenggara akan memperoleh sebanyak 1.000 sertifikat tanah prona. Koordinator Prona, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Agara, Juanda, kepada Serambi, Senin (21/2) mengatakan, beberapa waktu lalu telah mendata dan pengukuran tanah masyarakat.

Katanya, saat ini sebanyak 600 persil sudah masuk data ke BPN Kutacane. Lanjutnya, syarat untuk pengurusan sertifikat prona poto kopi KTP, surat tanah asli dan materai. Menurutnya, selesai mendata untuk 1.000 persil seritifikat prona di Agara, rencananya sertifikat prona dapat diberikan kepada masyarakat pada bulan November 2011.

Ditambahkan, pada tahun 2009 dan 2010 Agara tidak peroleh sertifikat prona dan dengan adanya sertifikat prona tahun ini sangat membantu masyarakat.(as)

Sumber : Serambinews.com

Agara Peroleh 1.000 Sertifikat Prona

Tue, Feb 22nd 2011, 09:10

KUTACANE - Tahun ini, Aceh Tenggara akan memperoleh sebanyak 1.000 sertifikat tanah prona. Koordinator Prona, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Agara, Juanda, kepada Serambi, Senin (21/2) mengatakan, beberapa waktu lalu telah mendata dan pengukuran tanah masyarakat.

Katanya, saat ini sebanyak 600 persil sudah masuk data ke BPN Kutacane. Lanjutnya, syarat untuk pengurusan sertifikat prona poto kopi KTP, surat tanah asli dan materai. Menurutnya, selesai mendata untuk 1.000 persil seritifikat prona di Agara, rencananya sertifikat prona dapat diberikan kepada masyarakat pada bulan November 2011.

Ditambahkan, pada tahun 2009 dan 2010 Agara tidak peroleh sertifikat prona dan dengan adanya sertifikat prona tahun ini sangat membantu masyarakat.(as)

Sumber : Serambinews.com

Agara Peroleh 1.000 Sertifikat Prona

Tue, Feb 22nd 2011, 09:10

KUTACANE - Tahun ini, Aceh Tenggara akan memperoleh sebanyak 1.000 sertifikat tanah prona. Koordinator Prona, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Agara, Juanda, kepada Serambi, Senin (21/2) mengatakan, beberapa waktu lalu telah mendata dan pengukuran tanah masyarakat.

Katanya, saat ini sebanyak 600 persil sudah masuk data ke BPN Kutacane. Lanjutnya, syarat untuk pengurusan sertifikat prona poto kopi KTP, surat tanah asli dan materai. Menurutnya, selesai mendata untuk 1.000 persil seritifikat prona di Agara, rencananya sertifikat prona dapat diberikan kepada masyarakat pada bulan November 2011.

Ditambahkan, pada tahun 2009 dan 2010 Agara tidak peroleh sertifikat prona dan dengan adanya sertifikat prona tahun ini sangat membantu masyarakat.(as)

Sumber : Serambinews.com

Agara Peroleh 1.000 Sertifikat Prona

Tue, Feb 22nd 2011, 09:10

KUTACANE - Tahun ini, Aceh Tenggara akan memperoleh sebanyak 1.000 sertifikat tanah prona. Koordinator Prona, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Agara, Juanda, kepada Serambi, Senin (21/2) mengatakan, beberapa waktu lalu telah mendata dan pengukuran tanah masyarakat.

Katanya, saat ini sebanyak 600 persil sudah masuk data ke BPN Kutacane. Lanjutnya, syarat untuk pengurusan sertifikat prona poto kopi KTP, surat tanah asli dan materai. Menurutnya, selesai mendata untuk 1.000 persil seritifikat prona di Agara, rencananya sertifikat prona dapat diberikan kepada masyarakat pada bulan November 2011.

Ditambahkan, pada tahun 2009 dan 2010 Agara tidak peroleh sertifikat prona dan dengan adanya sertifikat prona tahun ini sangat membantu masyarakat.(as)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 22 Maret 2011

Petani Kakoa Agara 600 Miliar Pertahun

Wed, Feb 9th 2011, 13:26

KUTACANE - Petani cokelat (kakoa) di 386 desa dari 16 Kecamatan di Aceh Tenggara, berpenghasilan Rp 600 miliar pertahun. Penghasilan seperti ini akan mensejahterakan petani.

Bupati Agara, Ir H Hasanuddin B MM, kepada Serambinews.com, Rabu (9/2) mengatakan, luas areal komoditi kakoa di Agara 10.000 hektare dengan penghasilan panen petani lima juta rupiah per hektare atau Rp 600 miliar pertahunnya. "Tahun 2011, Pemkab membagikan tiga juta bibit kakoa dan tahun 2012 nanti empat juta," kata Bupati Hasanuddin sambil menambahkan, pada tahun 2012, luas areal komoditi cokelat di Agara mencapai 17 ribu hektare.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Tak Dapat Jadup, Puluhan Penderita Eks Kusta Datangi DPRK

Tue, Feb 8th 2011, 11:35

KUTACANE - Puluhan mantan penderita eks kusta di Desa Natam Baru, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Selasa (8/2) mendatangi kantor DPRK Kutacane. Mereka itu sudah dua bulan (sejak Januari- Februari 2011) tak mendapat jatah hidup (Jadup).

Jemani (40) kepada Serambinews.com, Selasa (8/2) mengaku terhitung sejak Januari- Februari 2011, tidak menerima Jadup dari Pemerintah. "Biasanya setiap bulan sebanyak 16 bambu beras per Kepala Keluarga (KK). Tapi ini sudah dua bulan ini, tapi tak ada kabar," katanya. (asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 21 Maret 2011

PLTD Kuning Pasok Arus ke Enam Kecamatan

Fri, Feb 4th 2011, 18:21

KUTACANE - Pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) Ranting Kutacane, akan memasok arus listrik ke enam Kecamatan dari sistem Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kuning, Kecamatan Bambel.
Keenam Kecamatan itu adalah, Lawe Sigala-gala, Babul Makmur, Semadam, Babul Rahmah, Leuser dan Bukit Tusam.
Manager Ranting PLN Kutacane, Hafiz Ham Lubis, kepada Serambinews.com, Jumat (4/2/2011), mengatakan, saat ini mereka upayakan peningkatan pelayanan pasokan arus listrik kepada pelanggan khususnya dari enam Kecamatan yang selama ini mendapat pasokan arus listrik dari Sumatera Utara.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

PLTD Kuning Pasok Arus ke Enam Kecamatan

Fri, Feb 4th 2011, 18:21

KUTACANE - Pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) Ranting Kutacane, akan memasok arus listrik ke enam Kecamatan dari sistem Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kuning, Kecamatan Bambel.
Keenam Kecamatan itu adalah, Lawe Sigala-gala, Babul Makmur, Semadam, Babul Rahmah, Leuser dan Bukit Tusam.
Manager Ranting PLN Kutacane, Hafiz Ham Lubis, kepada Serambinews.com, Jumat (4/2/2011), mengatakan, saat ini mereka upayakan peningkatan pelayanan pasokan arus listrik kepada pelanggan khususnya dari enam Kecamatan yang selama ini mendapat pasokan arus listrik dari Sumatera Utara.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 17 Maret 2011

Sejuta Bibit Kakao Disalurkan

Thu, Feb 3rd 2011, 16:11

KUTACANE - Sebanyak 1.350.000 bibit kakoa (cokelat) tahun 2010, disalurkan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengara.

Penyaluran bibit tersebut melalui Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun), Rabu (2/2/2011), di depan kantor Dishutbun. Penyaluran bibit cokelat itu langsung diserahkan oleh Bupati Hasanuddin B, kepada kelompok tani.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Senin, 14 Maret 2011

Bupati Agara Minta Lokasi Banjir Dibronjong

Mon, Jan 31st 2011, 19:27


BUPATI Aceh Tenggara, Hasanuddin B dan Ketua DPRK, M Salim Fakhri, meninjau pembangunan bronjong di lokasi banjir, di Desa Semadam, Agara, Senin (31/1/2011. ASNAWI/SERAMBINEWS.COM

KUTACANE - Bupati Aceh Tenggara, Hasanuddin B, meminta dibangun bronjong permanen sepanjang 1 kilometer kiri dan kanan di lokasi banjir Desa Semadam, Kecamatan Semadam.

"Saya tak mau dibangun secara permanen dan tak ingin ada rakyat jadi korban akibat banjir," ujar Hasanuddin B, Ketika mengunjungi lokasi pembangunan bronjong bersama Ketua DPRK, M Salim Fakhri dan Muspika, Senin (31/1/2011).(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Pabrik Pengolah Karet Butuh Modal Usaha

Mon, Jan 31st 2011, 08:20

KUTACANE - Pabrik pengolah karet Alas Metuah Kutacane, Aceh Tenggara, membutuhkan bantuan modal usaha dari pemerintah kabupaten (Pemkab).

Pengumpul getah CV Alas Metuah, Bahrum MS, kepada Serambi Minggu (30/1) mengatakan, mereka membutuhkan tambahan bantuan modal usaha sebesar Rp 250 juta. Pasalnya, selama ini hanya modal itu saja mereka olah sebesar Rp 100 juta. Misalnya mereka kirim karet olahan ke Medan dan setelah uang ditransfer baru mereka dapat membeli bahan baku yang lain untuk selanjutnya diolah kembali.

Cukup disayangkan bahan baku mentah sebanyak 25 ton per harinya harus dibawa ke Medan, karena keterbatasan modal usaha sehingga CV Alas Metuah tidak dapat menampung atau membeli seluruh hasil panen karet petani di Agara itu. Seandainya, mereka mendapat dukungan bantuan modal usaha, maka ketersediaan bahan baku di pabrik pengolahan lebih mencukupi, apalagi harga karet sekarang saat ini cukup tinggi mencapai Rp 19 ribu perkilogram.

Menurutnya, sebanyak 4 ton karet yang mereka olah selama dua hari langsung mereka kirim ke Medan dengan pengiriman total perbulannya mencapai 18-25 ton karet kering atau slab-I. Ditambah, sebelumnya, mereka mendapat pinjaman modal usaha dari pihak bank BPD Aceh Kutacane sebesar Rp 150 juta, uang sebanyak itu tak memadai, karena uang sejumlah itu harus dipergunakan untuk biaya operasional dan pemberian modal usaha kepada agen-agen di beberapa Kecamatan dan juga telah memperkerjakan pekerja di pabrik 10 orang dan 15 orang agen pembelian karet. Untuk meningkatkan produksi karet dan ekonomi rakyat mereka meminta kepada Pemerintah Aceh agar memberikan bantuan modal usaha kepada mereka.(as)

Sumber : Serambinews.com

Kamis, 03 Maret 2011

Harga Getah Naik Tajam

Mon, Jan 24th 2011, 09:07

KUTACANE - Harga getah karet di Aceh Tenggara tiga hari terakhir naik cukup tajam. Getah jenis ball dari Rp 14.000 naik menjadi Rp 16.000 per kilogram, dan getah lempengan dari Rp 16.000 naik menjadi Rp 19.000 per kilo.

“Kenaikan getah karena meningkatnya harga karet dunia. Di Medan per kilogramnya mencapai Rp 42.000,” kata pengumpul getah dari CV Alas Metuah, Kutacane, Bukhari Budiman Ali, kepada Serambi, Minggu (23/1).

Bukhari mengungkapkan, secara umum produksi getah sedang mengalami penurunan akibat masuknya musim gugur. Untuk getah karet alam, musim gugur inmi terjadi tidak serentak melainkan satu persatu sehingga bisa dideres satu persatu. Sedangkan untuk jenis tanaman karet ungul, musim gugur akan terjadi serentak.

“Pengangkutan karet dari Agara ke Medan juga mulai menurun, dari rata-rata sebanyak 20 ton per hari menjadi 15 ton,” sebut Bukhari. Karet merupakan salah satu komoditas yang dihasilkan oleh Kabupaten Agara. Tanaman ini terus dikembangkan dengan memanfaatkan lahan-lahan telantar dan tebing sungai untuk penghijauan.(as)

Sumber : Serambinews.com

Bunga Bangkai Tumbuh di Ladang Petani Agara

Sun, Jan 23rd 2011, 09:21


Bunga bangkai setinggi 1,5 meter tumbuh di ladang petani kawasan Desa Alur Baning, Kecamatan Babul Rahmah, Aceh Tenggara, Sabtu ( 21/1). SERAMBI/ASNAWI

KUTACANE- Bunga bangkai (Amorphophallus titanium) setinggi 1,8 meter didapati tumbuh di ladang seorang petani di Desa Alur Baning, Kecamatan Babul Rahmah, Aceh Tenggara (Agara), Jumat (21/1). Ini temuan pertama di Aceh dalam tahun 2011.

Masnur Boru Sirait, warga Desa Gaya Jaya, Kecamatan Lawe Sigala gala, Agara, kepada Serambi kemarin mengatakan, di ladangnya tumbuh bungai bangkai 1,8 meter dan kini dalam keadaan mekar. Bunga itu dia perkirakan sudah lama tumbuh. Namun, baru kali ini dia lihat bunganya yang sedang mekar. “Saya menemukannya secara tak sengaja ketika pergi ke kebun memanen jagung dan membersihkan rumput liar,” ungkap Masnur.

Menurut Masnur, bunga itu tumbuh di ladang yang jauh dari permukiman penduduk dan belum diketahui masyarakat umum. Tapi sekarang, mulai banyak warga yang tahu setelah dia informasikan kepada tetangganya. Dalam dua hari terakhir, puluhan warga berbondong-bondong menyaksikan bunga langka yang baunya menyengat itu.

Berdasarkan catatan Serambi, penemuan bunga bangkai di Desa Alur Baning ini merupakan yang pertama di Aceh tahun ini. Pada tahun 2010, tidak satu bunga bangkai pun ditemukan mekar di bumi Aceh.

Tapi sebelumnya, 2009, beberapa kali bunga bangkai jenis Amorphophallus titanium maupun Rafflesia arnoldi ditemukan tumbuh sporadis di wilayah Aceh Tenggara, Aceh Utara, Nagan Raya, juga di Subulussalam.

Pada 13 Desember 2009, misalnya, warga Desa Suak Bilie, Kecamatan Suka Makmue, Nagan Raya heboh, karena ditemukan bunga bangkai, hal yang sebelumnya tidak pernah ditemukan di wilayah itu. Bunga itu tumbuh di halaman Adami, warga setempat.

Khusus di Subulussalam, Amorphopallus titanium tumbuh dua kuntum sekaligus di tengah kebun Muis (40), warga Kampung Sikalondang, Kecamatan Simpang Kiri. Penemunya Zona Solin (32) dan Mulyadi Angkat (34), penduduk Desa Kampung Badar, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam pada Minggu (28/6/2009) dan bunga langka itu bertahan mekar hingga Sabtu (4/7/2009).

Sebelumnya lagi, bunga bangkai ditemukan di Kampung Camp Laut, Kecamatan Rusip Antara, Aceh Tengah, pada Minggu (24 Februari 2009) oleh Camat Rusip Antara, Adli Salim SE.

Tidak sama
Menurut Kamus Ensiklopedia Indonesia, bunga bangkai tidak sama dengan bunga Rafflesia arnoldi, meski sama-sama ditemukan pertama kali di Bengkulu. Bunga bangkai termasuk keluarga bunga raksasa. Yang paling populer ditemukan adalah bunga bangkai jenis Amorphophallus titanium. Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan di Pulau Sumatera. Bahkan juga ada yang menyebut bunga ini sebagai bunga resmi Bengkulu.

Berbeda dengan Rafflesia, bunga bangkai ini berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Sedangkan mahkotanya merah keunguan. Sekilas bentuknya saat mekar seperti bunga terompet. Bila Rafflesia hanya melebar, bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi. Bunga bangkai jenis Amorphophallus titanium bisa mencapai 4 meter dengan diameter 1,5 meter.

Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae). Merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan bunga Rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat dibudidayakan di tempat yang berbeda. Bila Rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai justru tumbuh di atas umbinya sendiri. (as/dik)

Sumber : Serambinews.com

Kadishub Agara : Pesawat NBA Beroperasi Februari

Thu, Jan 20th 2011, 08:52

KUTACANE - Pesawat Nusantara Buana Air (NBA) direncanakan akan kembali melayani penerbangan rute Kutacane-Medan dan Banda Aceh, pada Bulan Februari 2011.

Hal itu diungkap Kepala Dinas Perhubungan Aceh Tenggara, Drs Raidin Pinim MAP kepada Serambi Rabu (19/1). Dikatakan, sebulan yang lalu pesawat NBA tak beroperasi dari Bandara Alas Leuser karena berakhirnya kontrak kerja. “Saat ini masih dalam proses tender di Meulaboh untuk disubsidi dari dana APBN,” ujarnya.

Raidin menyebutkan, untuk penerbangan Kutacane-Medan disubsidi menjadi Rp 130 ribu perseat dan Banda Aceh-Kutacane Rp 250 ribu perseat. Ia juga mengatakan, selain maskapai NBA, maskapai lain yang beroperasi di Bandara Alas Leuser adalah Susi Air yang memberlakukan tarif nonsubsidi. Susi Air melayani penerbangan Medan-Kutacane empat hari dalam seminggu dengan ongkos Rp 360 ribu perseat.(as)

Sumber : Serambinews.com

Proyek Lawe Sempilang amburadul

Wednesday, 19 January 2011 21:05

KUTACANE - Pengerjaan proyek pemeliharaan Jalan Lawe Sempilang dan Payeun Simblang, Aceh Tenggara (Agara) oleh CV New Montes dengan Pagu Rp 900 juta tahun anggaran 2010 dikerjakan asal jadi.

Informasi dihimpun, pihak rekanan yang bertanggungjawab atas pengerjaan proyek dengan pagu Rp 900 juta dan nilai kontrak Rp 700 juta ini, selain dikerjakan asal jadi alias amburadul. Juga ada beberapa item pekerjaan yang tidak dikerjakan, pada proyek yang tidak memakai plank nama ini.

Pekerjaan jalan yang mestinya dikerjakan sesuai bestek sepanjang 3 kilo meter, sebut sumber, oleh kontraktor dari Banda Aceh terindikasi tidak siap dikerjakan dan seakan bagai proyek terlantar.

Karena, pada proyek pekerjaan jalan ini, semestinya dibangun dua unit jembatan, namun hanya satu unit dikerjakan. Celakanya, jembatan yang satu ini juga dikerjakan tidak selesai alias setengah jadi.

Demikian juga dengan kondisi badan jalan yang dikerjakan sekitar tiga kilometer ini badan jalan tampak tidak ada bentuknya. Padahal, semestinya jalan yang dikerjakan dengan kegiatan pengerasan 1,5 kilometer ini terlihat bagus tertata sebagaimana yang ditentukan pada item pekerjaan, sesuai dengan besteknya.

Ketua LSM Generasi Anti Korupsi Alas Generasi (Gakag) Arafik Beruh, mengatakan sebagai putra Agara, dia menyesalkan sikap kontraktor CV New Monten yang beralamat di Banda Aceh ini.

"Pihak kontraktor harus bertanggungjawab, jangan seenaknya meninggalkan pekerjaan yang amburadul, kontraktor punya perjanjian dan berdampak pada jeratan hukum, tegas Arafik, malam ini.

Arafik meminta Kapolres Agara, AKBP Arsyad menindaklanjuti secara hukum, terkait pekerjaan asal jadi CV New Monten. "Jangan-jangan pihak kontraktor sudah berupaya pula melakukan tindakan melanggar hukum lainya 'bermain' dengan PPTK, sehingga dana proyek mulus dicairkan 100 persen, ini harus ditindaklanjuti aparat penegak hukum," tanasnya.

Sumber : Waspada.co.id

Rabu, 02 Maret 2011

Bendungan Irigasi Lawe Bekung Jebol

Tue, Jan 18th 2011, 13:55

KUTACANE - Bendungan irigasi sungai Lawe Harum Desa Lawe Bekung, Kecamatan Deleng Pokhisen, Aceh Tenggara, yang jebol hari Minggu (16/1) kemarin mengakibatkan air untuk budidaya perikanan di Kantor Perikanan kering. Imbasnya, petani mengalami kerugian mencapai 200 juta.

Irigasi yang jebol selebar 15 meter,langsung ditinjau Ketua DPRK Agara, M Salim Fakhri SE MM, dan anggota DPRK lainnya, Kadis Pengairan, Ir M Husin MM, dan Kepala Kantor Perikanan, Ir Khalidah. (asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 15 Februari 2011

Banjir puluhan meter jalan putus

Monday, 17 January 2011 21:05

KUTACANE - Puluhan meter badan jalan yang menghubungkn Lawe Harum Kecamatan Deleng Pokisen - Peranginan Kecamatan Badar Aceh Tenggara amblas , akibat banjir yang terjadi Minggu (16/1) dinihari.

Selain membuat badan jalan putus tak bisa dilalui kenderaan roda empat, banjir yang terjadi akibat meluapnya salah satu anak kali bulan yang berasal dari pegunungan lawe harum itu, juga mengakibatkan tanggul atau beronjong penangkap air ke kolam dinas perikanan ambruk.

Pantauan tadi malam, kendati debit air telah berkurang dan masih bercampur lumpur, namun ratusan batang kayu berukuran besar dan kecil masih melintang di badan jalan Lawe Harum-Peranginan.

Bahkan, hingga dilaporkan berita ini, belum terlihat upaya Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Agara, menurnkan alat berat untuk menyingkirkan kayu berukuran besar yang masih menutupi sebagian badan jalan yang dihantam banjir.Sementara puluhan warga terlihat mengambil dan mengumpulkan kayu berukurans edang dan kecil untuk kebutuhan rumah tangga.

Prakits akibat masih banyaknya kayu beruuran besar menutupi badan jalan, kenderaan roda empat yang bisa mulus melewati badan jalan penghubung dua kecamatan itu tak bisa lewat, menyusul amblasnya badan jalan di pinggiran sungai yang berasal dari kawasan pegunungan yang beberapa tahun lalu pernah dijadikan areal pembalakan liar oleh oknum tak bertanggung jawab.

Basri , salah seorang warga yang berkebun di sekitar lokasi kepada Waspada mengatakan, dirinya sempat panik akibat besarnya debit air yang turun dari kawasan pegunungan enuju pemukiman warga di sekitar desa Lawe Harum.

Bahkan akibat besarnya ukuran kayu yang turun bersamaan dengan guyuran hujan lebat, beberapa warga sekitar sempat merasa khawatir dan memprediksi jembatan Lawe Harum bakal roboh karena tak mampu menahan debit air yang berlebihan.

Diakui warga, kendati jlan itu hanya menghubungkan dua desa di dua kecamatan, namun jalan yang beberapa bulan lalu selesai dikerjakan tersebut, sangat vital bagi warga Agara, masalahnya jalan tersebut merupakan sentral perkebunan penghasil cokelat, karet, salak dan beberapa jenis tanaman keras lainnya.

Sebab itu, warga yang menggantungkan hidup dari sektor perkebunan di sekitar kawasan lawe Harum tersebut, berharap agar Dinas Bina Marga dan Cipta Karya segera turun tangan membersihkan kayu besar yang masih melintang di badan jalan.

” jalan putus yang tak bisa dilalui kenderaan roda empat juga, sebaiknya segera dipasang tanggul pengaman, bila dibiarkan saja, dikhawatrikan ,dampaknya akan semakin parah dan bisa merusak tanaman cokelat warga yang sedang berbuah,” harap Adi.

Di tempat terpisah, Kadis Perikanan Agara, Khalidah membenarkan, akibat meluapnya anak sungai kali bulan yang berasal dari pegunungan itu, menyebabkan tanggul penangkap air Kolam Ikan di Dinas Perikanan ambruk dan jebol.

“60 persen sumber air kolam ikan mas, Nila, Gurami, Patin dan Tawes, berasal dari tanggul penangkap air yang jebol tersebut, sebab itu kami kebingungan paska ambruknya tanggul tersebut,” ujar Khalidah.
Akibat, ambruknya tanggul itu, sebagian besar kolam ikan dinas perikanan mengalami kekeringan dan ratusan hektar lahan sawah serta tambak warga lainnya ,tak emndapat suplay air, pungkas Khalidah seraya berharap Pemkab membangun kembali beronjong atau tanggul penangkap air tersebut.

Sumber : Waspada.co.id

Badan Jalan Desa Suka Jaya-Sukadamai Amblas

Mon, Jan 17th 2011, 08:46


Sepanjang 30 meter badan jalan yang menghubungkan Desa Sukadamai- Suka Jaya, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Agara, Minggu (16/1) ambruk ke sungai. Akibatnya, kenderaan roda tiga dan empat sulit melintas. SERAMBI/ ASNAWI

KUTACANE - Sepanjang 30 meter badan jalan yang menghubungkan Desa Suka Jaya dengan Sukadamai, Kecamatan Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, Minggu (16/1) amblas ke sungai. Akibatnya, kenderaan roda tiga dan empat sulit melintas di jalan yang sebelumnya lebar 2,5 meter, kini tinggal setengah meter saja. Sehingga masyarakat terpaksa mencari jalan alternatif melalui perkebunan penduduk.

Irwansyah, seorang warga setempat, kepada Serambi, Minggu (16/1) mengatakan, badan jalan sepanjang 30 meter yang menghubungkan Desa Sukadamai dengan Desa Suka Jaya amblas ke sungai akibat kikisan air sungai tersebut. Sebelumnya, pada tahun lalu, badan jalan itu ambruk dikikis sungai, namun, tidak separah tahun ini yang menyebabkan truk tak bisa melintas.

Katanya, jalan itu merupakan sarana vital bagi masyarakat di daerah itu yang membawa hasil perkebunan seperti cokelat, jagung, padi, kelapa dan hasil bumi lainnya. Menurutnya, badan jalan ambruk bukan saja di lokasi itu, tetapi beberapa titik lainnya juga telah amblas akibat dikikis alur sungai Lawe Sigala-gala. Atas nama masyarakat mereka meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) agar secepatnya memperbaiki jalan yang ambruk dan juga membangun saluran pembuang yang ambruk di sejumlah lokasi di daerah itu.(as)

Sumber : Serambinews.com

Harga Minyak Serai dan Nilam Naik

Mon, Jan 17th 2011, 08:22

BLANGKEJEREN - Kondisi cuaca yang tidak menetu belakangan ini ikut mempengaruhi pergerakan harga minyak serai wangi dan nilam di Kabupaten Gayo Lues. Harga tampung minyak serai yang sebelumnya Rp 100.000 naik menjadi Rp 120.000 sekilo, dan minyak nilam naik dari Rp 380.000 menjadi Rp 450.000 per kilo.

“Saat ini untuk mendapatkan minyak serai dan nilam dari petani agak sulit, sehingga harganya menjadi naik,” kata Sulpan, agen penampung di Gayo Lues, kepada Serambi, Minggu (16/1)

Petani dia katakan, kesulitan melakukan penyulingan minyak karena kayu bakar semakin sulit diperoleh. Karena itu, bila pergeseran harga bisa mencapai di atas ratusan ribu, dia yakin perekonomian masyarakat akan semakin baik.(c40)

Sumber : Serambinews.com

Minggu, 13 Februari 2011

DPRK prihatin jalan Leuser

Saturday, 15 January 2011 12:03

KUTACANE - Ketua Komisi A dan anggota dewan lainnya dari dearah pemilihan empat, mengaku prihatin melihat kerusakan jalan di Kecamatan Leuser Aceh Tenggara yang kondisinya kian memprihatinkan.

Pengakuan itu disampaikan Erda Rina Pelis, ketua Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Agara, pagi ini. Menurutnya, kerusakan jalan akibat kurangnya pemeliharaan, dan telah berlangsung hampir dua tahun.

Namun, hingga kini terkesan masih dibiarkan oleh pihak berkompeten. Padahal, jalan provinsi dan jalan Kabupaten yang menghubungkan dua puluhan desa di kecamatan termuda dan paling selatan di Agara itu, sangat vital bagi masyarakat.

Bukan hanya jalan provinsi dari Lawe Desky-Muara Situlen hingga Permata Musara saja yang rusak parah dan terkesan ditelantarkan, bahkan ruas jalan kabupaten yang menghubungkan desa induk dengan puluhan desa pemekaran pun, kondisinya nyaris sama dan memprihatinkan.

Untuk mencapai kantor Camat Leuser, urai Erda, kondisinya sangat memprihatinkan. Kerusakan jalan mulai dari aspal terkelupas hingga berlobang dan berem jalan ditumbuhi semak belukar sudah menjadi pemandangan yang mudah ditemukan.

Akibatnya, warga Leuser yang ingin bepergian dari dan ke pasar Lawe Desky mengeluh, demikian juga dengan petani yang ingin memasarkan hasil pertanian dan perkebunan dari Kecamatan Leuser ke Kecamatan Babul Makmur.

Untuk itu, DPRK mendesak Pemprov NAD agar perhatian terhadap perbaikan jalan Provinsi Lawe Desky-Muara Situlen menuju desa Permata Musara dan desa lainnya yang jadi lintasan jalan provinsi.

Kepada Dinas Bina Marga dan Cipta Karya, beserta Komisi A dan anggota dewan lainnya, mendesak agar lebih perhatian lagi terhadap perawatan jalan dan jembatan Kabupaten yang menghubungkan desa Naga Timbul dengan puluhan desa lainnya yang telah ditumbuhi semak belukar.

Sumber : waspada.co.id

Koramil Lawe Sigala Bersihkan Material Banjir

Sat, Jan 15th 2011, 09:20

KUTACANE - Personel Koramil 01 Lawe Sigala-gala, Aceh Tenggara, bersama masyarakat, membersihkan saluran parit yang tertimbun lumpur dan material banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu di desa setempat. Danramil 01 Lawe Sigala-gala, Letda (Inf) Rifai, kepada Serambi, Jumat (14/1) mengatakan, personelnya bersama masyarakat setempat membersihkan saluran parit yang tertimbun lumpur banjir beberapa waktu lalu. Katanya, akibat saluran parit tertimbun tanah dan bebatuan material banjir setebal satu meter menyebabkan saluran itu tersumbat. Akibatnya, air meluap ke badan jalan apalagi di saat musim hujan. “Mudah-mudahan setelah saluran dibersihkan, kelak saluran itu tak mampet lagi,” Letda Rifai.(as)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 02 Februari 2011

Dinsos Agara Ajukan Dibangun 20 Rumah Korban Banjir Bandang

Thu, Jan 13th 2011, 09:26

KUTACANE - Dinas Sosial (Dinsos) Aceh Tenggara, mengajukan permohonan pembangunan 20 rumah untuk korban banjir bandang di Desa Semadam dan sekitarnya. Kepala Dinas Sosial Aceh Tenggara, Djahidinsyah, Rabu (12/1) mengatakan, mereka telah mengajukan sebanyak 20 unit rumah korban banjir bandang yang terdiri dari 15 unit rumah rusak ringan dan 5 unit rusak berat agar dibangun Dinsos Aceh.(as)

Sumber : Serambinews.com

Rabu, 19 Januari 2011

Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Dibangun di Agara

Fri, Jan 7th 2011, 16:15

KUTACANE - Untuk mengatasi krisis arus listrik di Aceh Tenggara, akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 10 MW di Lawe Sikap, Kecamatan Darul Hasanah. Tinggal izin dari menteri lingkungan untuk mewujudkan program itu. "Pengusaha dari Malaysia akan membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH," kata Bupati Aceh Tenggara, Hasanuddin B kepada Serambkinews.com, Jumat (7/1).Jika selama di Agara sering sekali listrik padam, maka adanya PLTMH itu Agara akan terbebas dari gelap gulita.

Sementara Kepala PLN Cabang Langsa, Baharuddin SE, mengatakan PLN Pusat dan memerintahkan PLN Aceh untuk merealisasikan pemasangan listrik masuk desa. Di Kutacane pada tahun ini akan direalisasikan untuk Desa Lawe Kinga, Paya Kuhu, Lawe Kongker, dan Pulo Sepang. "Sebenarnya, kondisi listrik di Agara tahun 2010 lalu mulai normal dan setelah mereka memasang 2,5 MW Surplus (daya pasok lebih). Jadi, kita membenahi dari sisi jaringan distribusi dan kesiapan dan pembenahan travo. Overblass (OB) sehingga dengan begitu enam Kecamatan yang selama ini tergantung dengan sistem sumut akan diupayakan melalui PLTD Kuning," ujar Baharuddin.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Besok, Menteri Lingkungan Hidup Ke Agara

Thu, Jan 6th 2011, 16:05

KUTACANE - Menteri Negara Lingkungan Hidup RI, Prof Dr Ir H Gusti Muhammad Hatta MS dan Ketua Komisi VII DPR-RI, Riefky Harsya, Besok, Jumat (7/1) akan berkunjung ke Aceh Tenggara dalam rangka kunjungan kerja. Kabag Humas Setdakab, Amri Siregar, mengatakan menteri negara lingkungan hidup RI dan Ketua Komisi VII DPR-RI beserta rombongan tiba melalui Bandara Alas Leuser Kutacane pada pukul 09.00 wib.

Selama dua jam (pukul 10.15-12.00 wib), menteri negara dan anggota DPR-RI melakukan pertemuan dengan kepala SKPK, Tokoh Masyarakat dan ormas. Dilanjutkan dengan mkan bersama di Kuta Lesung dan melakukan penanaman pohon penghijauan di Perguruan Tinggi Gunung Leuser (PTGL). Menteri juga akan menyerahkan alat resapan lubang biopori kepada BPH PTGL. Dilanjutkan dengan peninjauan pembangunan Mesjid At-Taqwa Kutacane dan juga pertemuan dengan keluarga besar Iriansyah/ Shalatuddin Ketua Aceh Corruption Watch (ACW) Cane di Lawe Kihing mulai pukul 17.30 wib. Hari Sabtu (8/1), rombongan menteri kembali ke Jakarta. (asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 18 Januari 2011

Lintas Kutacane-Medan Lumpuh Delapan Jam

Thu, Jan 6th 2011, 18:45


PULUHAN kendaraan dari berbagai jenis terparkir di ruas jalan Kutacane-Medan, menyusul terperosoknya sebuah truk pengakut sawit di badan jalan. Arus lalulintas sempat macet selama delapan jam, setelah truk yang terperosok berhasil dievakuasi. ASNAWI LUWI/SERAMBINEWS.COM

KUTACANE - Jalan lintas Kutacane, Aceh Tenggara, menuju Medan di kawasan Desa Kuta Buluh, Kamis (6/1/2011) dinihari sempat lumpuh selama delapan jam. Lumpuhnya jalur darat itu akibat terperosoknya sebuah truk pengangkut sawit.

Antrean kendaraan baik dari Kutacane ke Medan atau sebaliknya mencapai dua kilometer. Arus lalulintas kembali normal pada pukul 08.00 WIB, setelah sebuah truk interkuler menarik truk pengangkut sawit yang terperosok tersebut.

Agus, seorang sopir angkutan jurusan Kutacane-Medan, kepada Serambinews.com, mengatakan, mereka mulai pukul 00.00 WIB, sudah terjebak kemacetan persisnya di depan kantor polisi Satlantas Kuta Buluh. Tapi, sepertinya mereka terkesan lamban menangani persoalan itu.(asnawi luwi)


sumber : Serambinews.com

Rabu, 05 Januari 2011

Anggota Komisi D DPRK : PT Gayotama Beroperasi tanpa Amdal

Sun, Jan 2nd 2011, 18:24

Laporan Asnawi Luwi

KUTACANE - Anggota Komisi D DPRK Aceh Tenggara, M Fahrial SKD, mengatakan, PT Gayotama yang beroperasi di Lawe Sekerah, Kecamatan Badar, tak memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
"Sampai sekarang PT Gayotama belum mampu menunjukan Amdalnya. Tahun lalu kami turun ke perusahaan tersebut, namun mereka (pihak perusahaan) tidak menunjukan amdalnya. Hingga kini amdal tersebut juga belum diberikan," ujar M Fahrial kepada Serambinews.com.
Dikatakan, akibat beroperasinya PT Gayotama menyebabkan masyarakat Desa Lawe Sekerah terserang penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).(aji)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 04 Januari 2011

Lintas Kutacane-Blangkejeren Lumpuh Dua Jam

Jalan Diblokir Warga
Wed, Dec 29th 2010, 11:34

KUTACANE - Jalan lintas Kutacane, Aceh Tenggara-Blangkejeren, Gayo Lues persisnya di Desa Lawe Mengkudu, Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, Selasa (28/12) diblokir warga. Akibatnya, arus transporatsi dua arah ke kedua kabupaten tersebut sempat lumpuh dua jam. Warga marah, karena karena normalisasi sungai Lawe Mengkudu yang dihantam banjir beberapa waktu lalu tak dilakukan pemerintah.

Bupati Aceh Tenggara, Hasanuddin B yang turun ke lokasi bersama Kadis BMCK Aceh, Muhyan Yunan mengatakan, saat ini alat berat dikarahkan untuk normalisasi sungai di daerah itu. Dan pembangunan bronjong di Sungai Lawe Mengkudu.

Kata Hasanuddin, sebelumnya pada tahun 1981 sebanyak 21 orang tewas dihantam banjir di daerah itu dan pada tahun 2005, 17 orang tewas. Selama ini, penanganan banjir di daerah itu tidak permanen, dan kini akan kita bangun bronjong permanen dan jembatan yang rusak kita rencanakan secepatnya diganti. Disebutkan, di Simpang Semadam akan dibangun satu jembatan bayle dan dua jembatan di Lawe Mengkudu.

Selain itu, normalisasi dan pengamanan bronjong dibangun 1 Kilometer di Semadam dan Lawe Mengkudu sepanjang 1 Km. Lebar sungai itu menjadi 25 meter dan panjang 1 kilometer. Sementara itu, Kepala Dinas BMCK Aceh, Muhyan Yunan, saat berada di lokasi itu, mengatakan, jembatan Bayle sepanjang 40 meter akan dibangun di Lawe Mengkudu, selanjutkan menyusul yang lainnya kalau bahan sudah ada. Kata Muhyan, dia berada di Kutacane saat ini karena diperintah Gubernur Aceh untuk melihat kondisi banjir di daerah Agara.

Tokoh Masyarakat Ketambe, Rabumin mengatakan, normalisasi Alur sungai Lawe Mengkudu diharapkan sepanjang 2 kilometer di dua lokasi. Selama ini setiap musim hujan warga mengungsi. Menurutnya, masyarakat memblokir jalan dengan membentang kayu di badan jalan sebagai bentuk protes mereka terhadap persoalan normalisasi sungai Lawe Mengkudu yang sudah lama tak terealisasi.(as)

Sumber : Serambinews.com

Lintas Kutacane-Medan Lumpuh Tujuh Jam

Sungai Semadam Meluap
Mon, Dec 27th 2010, 11:16

KUTACANE - Hujan deras yang terjadi pada Sabtu (25/12) pukul 20.00 WIB, menyebabkan sungai Semadam, di Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara, Minggu (26/12) dinihari meluap dan menggenangi badan jalan. Akibatnya, arus transportasi darat lintas Kutacane-Medan sempat lumpuh selama 7 jam.

Sulaiman, seorang warga Semadam kepada Serambi, Minggu (26/12) mengatakan, pada Sabtu malam hujan deras tak henti-hentinya. Dan, pada Minggu pukul 00. 00 WIB, sungai meluap hingga menggenangi badan jalan persisnya di lokasi banjir bandang yang terjadi baru-baru ini. Akibatnya, transportasi Medan-Kutacane lumpuh total selama tujuh jam. Namun, ada juga masyarakat terpaksa melewati jalur alternatif yakni melewati dari Desa Lawe Tua-Lawe Serke, Kecamatan Lawe Sigala-gala dan tembus di Desa Semadam Awal.

Dijelaskannya, jalan tersebut baru lancar kembali pada Minggu (26/12) pukul 07.00 WIB, setelah satu unit alat berat dikerahkan di lokasi itu. Menurutnya, di Desa Semadam dan sekitarnya pada tahun 2005 lalu, pernah juga dilanda banjir bandang lebih parah dari pada tahun 2010 ini. Katanya, Semadam memang dikenal dengan rawan banjir bandang, akibat terjadinya kedidak seimbangan alam.(as)

sumber : Serambinews.com

Minggu, 02 Januari 2011

Jalur Semadam-Medan Kembali Lancar

* 249 KK Korban Banjir Bandang Mengungsi
Fri, Dec 24th 2010, 10:49


Banjir bandang yang melanda Desa Semadam, Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara mengakibatkan jalur transportasi Medan-Kutacane lumpuh total sejak Rabu (22/12) pukul 20.00 WIB, hingga Kamis (23/12) pukul 13.00 WIB. Transportasi kembali normal pukul 14.00 WIB. SERAMBI/ASNAWI

KUTACANE - Arus transportasi darat di lintasan Kutacane, Aceh Tenggara (Agara) menuju Sumatera Utara (Sumut), persisnya di Desa Semadam dan sekitarnya, sudah kembali normal pada Kamis (23/12) pukul 14.00 WIB, setelah alat berat dikerahkan ke lokasi.

Selain itu, 249 kepala keluarga (KK) di daerah itu masih mengungsi di SDN Semadam akibat banjir bandang. Adapun yang warga lainnya kemarin mulai kembali ke rumah masing-masing dan bergotong royong membersihkan rumah dari genangan lumpur yang terbawa banjir.

Dalam insiden itu, 249 rumah rusak, termasuk puluhan hektare tanaman cokelat dan padi. Seperti diberitakan kemarin, Desa Lawe Beringin Gayo, Lawe Mejile, Simpang Semadam, Desa Semadam Awal dan desa sekitarnyadi dalam Kecamatan Semadam, Aceh Tenggara, Rabu (22/12) pukul 20.00 WIB, dilanda banjir bandang. Akibatnya, ribuan penduduk mengungsi ke Desa Lawe Kinga Lapter, Desa Parit Kulur, Bandara Alas Leuser, atau ke lokasi lain yang mereka anggap aman.

Samsuddin, warga Semadam, mengatakan kemarin bahwa ia sudah pulang ke rumah dan kini sedang membersihkan rumah. Sementara itu, Camat Semadam, Zulkarnain, kepada Serambi, Kamis (23/12) mengatakan, saat ini arus transportasi darat di lintas Medan-Kutacane kembali normal setelah alat berat dikerahkan mengangkat meterial banjir, berupa kayu dan bebatuan, di badan jalan.

Dikatakan, rumah yang rusak akibat banjir bandang itu 55 unit dengan kondisi rusak berat dan 194 rusak ringan. Menurutnya, saat ini sebanyak 249 KK masih mengungsi di SDN Semadam. Mereka tak lagi bisa memasak di rumahnya, karena rumah tersebut rusak. Sedangkan, warga lainnya di daerah itu telah kembali ke rumah dan membersihkan rumah dari genangan banjir.

Longsor dibersihkan
Petugas dari instansi terkait, Rabu (22/12) malam juga dilaporkan mulai membersihkan material longsor di kawasan Pegunungan Singgah Mata, Kecamatan Pantan Cuaca, Gayo Lues. Longsor itu terjadi Selasa lalu, terjadi di jalan nasional yang menghubungkan Blangkejeren-Takengon.

“Material longsor mulai dibersihkan Rabu (22/12) sekitar pukul 23.00 WIB dengan mengerahkan alat berat dari arah Isaq, Kabupaten Aceh Tengah, ke lokasi bencana,” kata staf Dinas BMCK Aceh, melalui Pelaksana Harian Jalan Blangkejeren-Takengon, Alfakih, kepada Serambi, Kamis (23/12).

Dikatakan, kendati sejak Rabu malam material longsor mulai dibersihkan dari badan jalan dengan alat berat, namun sampai kemarin material longsor tersebut belum tuntas dibersihkan secara merata dari ruas jalan dimaksud. Ini terjadi akibat hujan yang terus mengguyur di kawasan titik longsor.

Begitupun, menurut Alfakih, transportasi Blangkejeren-Takengon dan Banda Aceh sudah normal kembali. “Paling-paling hanya ada sedikit sisa-sisa material yang kini pun sedang dibersihkan,” ujar kemarin siang. (as/c40)

Sumber : Serambinews.com

Semadam Disapu Banjir Bandang

* Ribuan Warga Mengungsi, Dua Hilang
Thu, Dec 23rd 2010, 10:43

KUTACANE - Sejumlah desa di Kecamatan Semadam, Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), tadi malam disapu banjir bandang yang menerjang dari pegunungan. Air bercampur lumpur, batu, dan kayu memporak-porandakan setidaknya empat desa, yaitu Lawe Beringin Gayo, Lawe Mejile, Simpang Semadam, dan Semadam Awal. Ribuan warga mengungsi, dua di antaranya dilaporkan hilang.

Desa-desa yang diterjang banjir bandang itu berada di lereng pegunungan dan aliran sungai. Hujan deras yang turun sejak sore kemarin menyebabkan sungai meluap karena tak mampu menampung air bah dari gunung. Luapan itu tanpa ampun menerjang permukiman yang bersisian dengan jalan nasional Kutacane-Medan. Yang tertimbun lumpur, kayu, dan bongkah-bongkah batu bukan hanya permukiman tetapi juga jalan nasional tersebut.

Terjangan banjir bandang itu dilaporkan terjadi pukul 20.00 WIB, Rabu (22/12). Suara gemuruh diikuti jerit histeris mewarnai suasana malam yang dingin karena terus-terusan diguyur hujan. Kepanikan semakin memuncak ketika listrik mati dan air bah semakin dahsyat memporakporandakan permukiman.

Dalam keadaan gelap gulita dan guyuran hujan serta terjangan banjir bandang yang mematikan, masyarakat berusaha menyelamatkan diri sambil menggiring anggota keluarga dan apa saja yang bisa diselamatkan. Lokasi pelarian untuk menyelamatkan diri antara lain ke Desa Lawe Kinga, Parit Kulur, Bandara Alas Leuser, dan beberapa titik lainnya yang dianggap aman.

Bupati Agara Hasanuddin B MM bersama Kapolres AKBP Arsyad KH, Ketua DPRK M Salim Fakhri dan sejumlah pejabat lainnya, tadi malam turun langsung ke lokasi bencana di Kecamatan Semadam.

Bupati Hasanuddin kepada Serambi mengatakan, ribuan warga mengungsi dan dua orang dilaporkan hilang. Banyak rumah dan fasilitas umum yang dipastikan rusak. Namun hingga pukul 22.00 WIB tadi malam, belum ada data pasti karena banjir masih tetap menerjang. “Banjir bandang kali ini sangat besar,” kata Hasanuddin.

Menurut Hasanuddin, tadi malam dua unit alat berat dikerahkan untuk membersihkan lumpur, kayu, dan batu yang menutupi jalan nasional Kutacane-Medan agar transportasi bisa lancar kembali. Sementara itu masyarakat Desa Lawe Tua, Buket Merdeka, dan sekitarnya di Kecamatan Lawe Sigala-gala, tadi malam juga panik akibat luapan anak sungai menyusul hujan lebat yang mengguyur wilayah itu. Mereka siaga di depan rumah untuk berjaga-jaga dari kemungkinan terburuk.(as)

Sumber : Serambinews.com