Senin, 27 Juni 2011

Lahan Diserobot, Warga Datangi Dewan

Wed, May 4th 2011, 14:35

KUTACANE - Puluhan warga Desa Sengelit, Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara, Rabu (4/5/2011), mendatangi kantor DPRK setempat. Kedatangan mereka terkait penyerobotan lahan yang diduga dilakukan oknum-oknum tertentu. Kehadiran massa itu diterima Ketua DPRK Aceh Tenggara, M Salim Fakhri, Wakil Ketua Syahbuddin BP, anggota DPRK Irwandi Desky dan Abdul Malik.
Perwakilan warga, Seliansyah Putra, kepada Serambinews.com, mengatakan, kedatangan mereka ke DPRK, untuk meminta hak atas garapan lahan yang diduga dirampas oknum-oknum dari Keluarga Maha.
Dikatakan, masyarakat 63 Kepala Keluarga (KK) membuka lahan di Bumbun Alas, Kecamatan Leuser, sejak tahun 1996 dari 7 desa di Agara. Namun, pada tahun 2004, Kepala Desa mengeluarkan surat tanah tersebut dengan pemilik keluarga Maha dengan nomor 08/BB4/58/2005 dan mana bisa Kepala Desa Keluarkan surat tersebut.
Setiap KK, sebut Seliansyah, daerah itu memiliki luas areal bervariasi antara 4-8 hektare dan sebahagian sudah ditanami komoditi cokelat, sawit dan komoditi lainnya.(asnawi luwi)

Sumber : Serambinews.com

Jalan Longsor di Lintasan Galus-Agara Harus Segera Diperbaiki

Wed, May 4th 2011, 08:46

KUTACANE - Anggota DPRA, Irmawan SSos MM asal daerah pemilihan (Dapil) VII yang juga putra Gayo Lues, mengharapkan agar Pemerintah Aceh segera memperbaiki jalan di lintasan Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) dengan Kabupaten Gayo Lues (Galus) persisnya di Desa Simpur Jaya, Kecamatan Badar, Agara.

“Jalan itu harus secepatnya diperbaiki Pemerintah Aceh, karena setiap saat dilintasi kenderaan yang membawa hasil bumi ke Medan dan kebutuhan pokok dari Medan ke dua kabupaten dimaksud,” ujar Irmawan kepada Serambi via handphone selular, Selasa (3/5) usai menunjau jalan tersebut, Senin (2/5).

Ia mengatakan, jalan negara tersebut, ketika dicek ke lapangan, sudah longsor ke sungai Alas mencapai sepanjang 138 meter dan lebar sekitar 2,5 meter. Akibat longsor tersebut, badan jalan yang sebelumnya lebarnya 10 meter dan sempat terjadi antrian panjang gara-gara jalan dimaksud amblas ke sungai Alas.

Untuk itu, lanjut Irmawan, pihaknya meminta supaya Pemerintah Aceh melalui dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Aceh dapat sesegera mungkin menanganinya secara darurat, jangan sampai berlarut-larut dan dikhawatirkan jalan tersebut habis mengikis sungai Alas kalau tidak secepatnya dibangun oleh Pemerintah Aceh.

“Jangan gara-gara jalan rusak itu hasil bumi sulit diangkut, dan ini akan sangat merugikan petani di daerah itu. Dan, juga kalau bahan pokok sulit dipasok dari Medan di daerah itu karena jalan masih rusak, ini akan menyebabkan harga kebutuhan pokok menjadi mahal dan ini tentunya akan merugikan rakyat khususnya di kawasan pedalaman Gayo Lues dan Agara,” katanya.(as)

Sumber : Serambinews.com

Selasa, 21 Juni 2011

Staf BPKEL dan TNGL Nyaris Adu Jotos

Diduga Saling Klaim Wilayah Riset
Wed, Apr 20th 2011, 08:36


Seorang polisi Polres Agara menenteng senjata api laras panjang saat mengamankan perselisihan antara petugas Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) dengan petugas TNGL di lokasi studi penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Agara, Selasa (19/4). PROHABA/ASNAWI

KUTACANE - Pihak Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL), Senin (19/4) sekitar pukul 14.30 WIB, terlibat adu mulut yang nyaris berujung saling tukar bogem mentah dengan staf Taman Nasional Gununung Leuser (TNGL) di lokasi stasiun Penelitian Ketambe, Kecamatan Ketambe, Agara.

Disebut-sebut, pertengkaran itu dipicu oleh saling klaim kedua pihak atas lokasi riset, di Ketambe sebagai wilayah tugas mereka masing-masing. Pertengkaran itu sempat membuat Kapolres Agara, AKBP Drs Arsyad KH, Wakapolres Kompol Bambang Eko Subandono SIK MM dan petinggi Polres Agara lainnya turun tangan menengahi situasi.

Staf BPKEL Agara, Cikgam, Senin (19/4) mengaku, mereka diusir pihak TNGL di lokasi riset secara paksa dengan menggunakan senjata tajam. Mereka sudah 3 tahun lebih mengelola lokasi riset tersebut dan kenapa sekarang diributkan.

Menurutnya, berdasarkan peraturan Gubernur Aceh nomor 52 tahun 2006 tentang pembentukan BPKEL, undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, Intruksi Gubernur nomor 5/INSTR/2007, tentang moratorium logging di Aceh.

Mereka meminta kepada Pemerintah Aceh untuk menyelesaikan persoalan itu dan memperjelas status lokasi riset tersebut apakah itu hak tugas BPKEL atan TNGL, seperti diakui Cikgam.

Sementara itu, Kepala Resort Lawe Gurah TNGL, Sabaruddin, secara terpisah mengatakan, itu wilayah tugas mereka berdasarkan undang-undang tahun 2009 tentang pokok kehutanan, undang-undang nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh, Konservasi ditangani pusat bukan diserahkan kepada daerah.

Ditanyai tentang pengusiran pihak BPKEL di lokasi riset dengan menggunakan senjata tajam, Sabaruddin, membantah mengancam menggunakan senjata tajam. Namun dia mengakui mengusir pihak BPKEL secara paksa di lokasi riset, karena tidak ada surat tugas mereka.

Sementara itu, Kapolres Agara, AKBP, Arsyad didampingi Waka, Bambang Eko Subandono, mengatakan, saat ini pihaknya menelusuri insiden itu secara lebih jernih. Termasuk berkoordinasi dengan jajaran pimpinan lebih tinggi, agar kedua pihak tidak ada yang merasa dirugikan.(as)

Sumber : Serambinews.com

Cokelat Rp 22.000 Per Kilogram

* Harga Pinang Naik
Mon, Apr 18th 2011, 10:27

KUTACANE - Harga cokelat (kakao) di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) dilaporkan naik menjadi Rp 22.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 20.000. Sementara kemiri justeru mengalami penurunan dari Rp 24.000 menjadi Rp 22.000 per kilogram.

Pengumpul hasil bumi di Agara, Hendrik, kepada Serambi, Minggu (17/4), mengatakan, kenaikan harga komoditas cokelat ini terjadi sepekan lalu, seiring dengan peningkatan permintaan di pasar Medan, Sumatera Utara.

“Harga barang di pasaran tak menentu, karena naik atau turunnya tergantung harga di pasaran Medan. Karena mayoritas hasil bumi dari Agara dipasarkan ke Medan,” ujar Hendrik.

Sementara itu di Kabupaten Pidie Jaya, harga pinang dilaporkan naik sejak pekan lalu dari Rp 7.500 menjadi Rp 8.800, atau terjadi kenaikan Rp 1.300 setiap kilogramnya.

Hal ini disambut antusias oleh petani, salah satunya Khatijah, petani di Gampung Paru, Kecamatan Bandar Baru. “Setiap hari kita mampu menghasilkan pinang yang telah dibelah sebanyak 100 hingga 150 kilogram,” sebutnya.

Pinang itu selanjutnya dijual kepada agen penampung yang kebanyak langsung mendatangi petani di desa-desa. Rata-rata setiap penampung mampu mengumpulkan 3 sampai 4 ton pinang belah, untuk selanjutnya dikirim ke Medan, Sumatera Utara.(as/c43)

sumber : Serambinews.com

Senin, 13 Juni 2011

Jalan Gaya Jaya-Salim Pipit Rusak

Sun, Apr 17th 2011, 08:37
* Hasil Bumi sulit Diangkut

KUTACANE - Sekitar sepanjang delapan kilometer jalan Gaya Jaya, di Kecamatan Lawe Sigala yang menghubungkan Desa Salim Pipit, Kecamatan Babul Rahmah, Aceh Tenggara, rusak. Akibatnya, kenderaan yang melintasi didaerah itu kesulitan mengangkut hasil bumi seperti sawit, jagung, cokelat dan komoditas lainnya.

“Sudah bertahun-tahun jalan tersebut rusak, namun sampai sekarang belum ada perbaikan. uUjar M Simamora, tokoh masyarakat Desa Gaya Jaya, kepada Serambi, Sabtu (16/4).

Kata Dia, badan jalan tersebut kondisinya berlubang-lubang dan kupak-kapik seperti kubangan kerbau sehingga sulit dilintasi kenderaan roda empat, tiga dan roda dua. Jalan aspal tersebut merupakan sarat vital masyarakat untuk mengangkut hasil buminya ke Pasar. Sebab, setiap hari petani mengangkut hasil buminya dengan mobil truk dan beca mesin.

Hal lain diutarakan Tarmizi, warga Desa Salim Pipit. Kata Dia, jalan di desanya berlubang-lubang seperti kubangan kerbau. Namun, sampai sekarang belum diperbaiki, sehingga ratusan ton hasil bumi setiap hari di daerah itu sulit diangkut. Untuk itu, ia meminta kepada pemerintah agar membangun jalan-jalan pedesaan tersebut, agar masyarakat petani mudah mengangkut hasil buminya untuk dipasarkan ke kota kecamatan.(as)
Sumber : Serambinews.com

Rabu, 08 Juni 2011

Di Agara, Getah 17.000/Kg

Mon, Apr 11th 2011, 09:10

KUTACANE - Harga getah di Kabupaten Aceh Tenggara sejak tiga hari terakhir mengalami kenaikan. Getah lempengan dari sebelumnya Rp 12.000 naik menjadi Rp 17.000 per kilogram dan getah ball dari Rp 10.000 naik menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Pengumpul getah CV Alas Metuah Kutacane, Bahrum MS, kepada Serambi, Minggu (10/4), mengatakan, kenaikan harga itu dipicu karena kebutuhan di pasaran internasional untuk mempersiapkan produksi seperti ban mobil, sepeda motor dan bahan baku produk tekstil lainnya terus meningkat.

Bahrum mengungkapkan, setiap minggu dia bisa memasarkan 5 ton getah olahan yang sudah menjadi sal (selendang) ke Kabupaten Asahan. Ke depan dia merencanakan akan menambah jadwal pengangkutan menjadi 3 kali per minggu, karena stok getah yang mulai stabil.(as)

Sumber : Serambinews.com

Jalan Nasional Blangkejeren-Kotacane Rusak Parah

Thu, Apr 7th 2011, 09:23

BLANGKEJEREN - Puluhan meter ruas jalan nasional antara Blangkejeren (Kabupaten Gayo Lues) dengan Kotacane (Aceh Tenggara), dalam beberapa bulan terakhir ini rusak parah.

Pantauan Serambi, Rabu (6/4), meskipun sampai saat ini sejumlah titik ruas jalan itu sedang dilakukan penimbunan oleh instansi terkait, namun hal itu masih dikeluhkan oleh para pengguna jalan. Pasalnya penimbunan yang dilakukan itu, ibarat jalan kuda, naik turun penuh dengan kerikil. Bahkan di saat musim hujan kondisi ruas jalan itu sangat licin dan sulit dilintasi, karena masih saja digenangi air pada beberapa titik di ruas jalan nasional tersebut.

Imron (30) seorang pengguna jalan warga Kotacane, kepada Serambi, Rabu (6/4) mengatakan, kondisi ruas jalan nasional Blangkejeren-Kotacane dalam beberapa bulan terakhir ini mulai hancur, bahkan beberapa titik sangat rawan terjadinya longsor.

Tak hanya itu, kata Imron, sejumlah ruas jalan yang baru diperbaiki dan diaspal pada akhir tahun 2010 lalu, kini mulai hancur dan amblas di beberapa titik. Anehnya, sampai ini, kondisi yang mulai hancur dan amblas itu belum ada penanganan sama sekali. Padahal jalan itu baru saja tuntas dikerjakan.

Dia berharap, agar ruas jalan yang sangat rawan terjadi kecelakan lalulintas dan beberapa titik kawasan yang rawan longsor itu cepat ditangani oleh pihak terkait, sebelum menelan korban jiwa yang lebih banyak lagi.

Hal yang sama diutarakan, Herman warga Blangkejeren. Ia menyebutkan, ratusan meter ruas jalan rusak parah di kawasan Desa Kunke, Jeret Onom, Air Jernih, Serkil dan beberapa titik lainnya di Kecamatan Putri Betung tersebut hendaknya segera ditangani oleh instansi terkait.

Begitu juga halnya beberapa titik kawasan yang sangat rawan terjadi longsor di saat musin hujan, perlu dilakukan penanganan secepatnya. Pasalnya dalam beberapa bulan terakhir ini kerusakan itu semakin parah dan mulai hancur, sehingga sukar dilalui kendaraan. “Keadaan jalan nasional Blangkejeren-Kotacane, Provinsi Aceh itu saat ini hampir sama dengan keberadaan jalan Kotacane-Medan di kawasan Tanah Karo Sumatera Utara sana,” kata Herman.(c40)

Sumber : Serambinews.com